Showing posts with label Permasalahan Penetasan. Show all posts
Showing posts with label Permasalahan Penetasan. Show all posts

Permasalahan penetasan, Telur bening

Saat diterawang telur yang tidak menetas seringkali tampak bening atau terang. Berikut penyebab telur tidak menetas dan tampak terang atau bening:
  1. Telur Infertil. Adalah telur yang tidak dibuahi oleh pejantan. Selain itu, telur infertil bisa juga disebabkan telur mengalami transportasi yang jauh atau terlalu lama rentang waktu dari proses peneluran hingga dimasukan kedalam mesin tetas, sehingga tali pengikat kuning telur menjadi putus. Hal ini menyebabkan embrio mati sebelum berkembang lebih jauh.
  2. Penempatan telur yang tidak benar. Penempatan telur yang salah didalam mesin sangat mungkin dilakukan oleh karyawan yang masih baru. Posisi kantong udara yang berada dibawah (menungging) menyebabkan kantong tertekan embrio sehingga embrio mengalami kesulitan bernapas dan akhirnya mati.
  3. Fumigasi telur yang terlalu lama. Telur yang difumigasi lebih dari 20 menit dapat menyebabkan embrio mati. Hal ini disebabkan embrio tidak tahan terhadap akumulasi penyerapan formaldehid selama proses fumigasi yang lama.
  4. Kematian embrio yang sangat dini. Telur akan menetas atau embrio keluar dari telur setelah dierami dengan mesin tetas selama 21 hari. Namun, ada kalanya embrio mati sebelum umur 21 hari sehingga telur tampak bening karena tidak berembrio.

Menetas terlalu awal

Telur menetas terlalu awal jika pada umur 20 hari telur tersebut sudah menetas. Akibatnya, kuning telur belum terserap sempurna oleh anak ayam. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya omphalitis. Berikut ini penyebab telur menetas terlalu awal didalam mesin penetas:

  1. Ukuran telur terlalu kecil. Ukuran telur yang terlalu kecil dibandingkan dengan telur-telur yang lain didalam satu mesin menyebabkan intensitas penyerapan panas yang berbeda. Pada suhu dan kelembapan yang sama, volume telur yang lebih kecil menyebabkan akumulasi penyerapan panas menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan telur yang bervolume besar. Akibatnya, telur menetas lebih awal. Karena itu, tingkat keseragaman dan ukuran telur harus diperhatikan.
  2. Pengukuran termometer tidak valid. Pengukuran yang tidak valid oleh termometer biasanya disebabkan termometer tidak dikalibrasi terlebih dulu.
  3. Temperatur pada hari ke 1 sampai 19 terlalu tinggi.
  4. Kelembapan hari ke 1 sampai hari ke 19 terlalu rendah.

Rongga udara telur tetas terlalu kecil

Rongga udara terlalu kecil maksutnya bagian kantong udara tidak mencapai sepertiga tinggi telur pada saat telur sudah menetas. Hal ini menyebabkan embrio kekurangan oksigen untuk bernapas. Berikut penyebab rongga udara terlalu kecil:

  1. Formulasi pakan induk tidak benar. Jumlah pakan yang diberikan kepada induk ayam yang dipelihara semi intensif biasanya terbatas, seperti hanya diberi pakan berupa dedak atau nasi aking. Hal ini menyebabkan ayam mengalami kekurangan protein, vitamin, dan mineral sehingga ukuran rongga udara menjadi terlalu kecil.
  2. Ukuran massa telur terlalu besar. Ukuran massa telur yang terlalu besar menyebabkan porsi rongga udara menjadi tidak proporsional. Selain tiu, bentuk telur yang terlalu lonjong atau bulat membuat porsi rongga udara tidak proporsional. Karena itu, bentuk telur yang terlalu lonjong dan terlalu bulat harus disortir.
  3. Kelembapan yang terlalu tinggi. Kelembapan yang terlalu tinggi diruang penetasan dapat menyebabkan uap air diruang penetasan menembus dinding telur. Volume air yang masuk ini akan mengurangi porsi rongga udara.

Perdarahan pada telur tetas

Pada saat telur diterawang terlihat adanya alur darah. Jika diperhatikan lebih teliti maka embrio mati pada hari ke 2 hingga hari ke 4. Berikut ini beberapa penyebab terjadinya perdarahan pada telur:

  1. Biasanya kematian embrio disebabkan adanya pengaruh gen lethal (keturunan). Tetapi kejadian seperti ini jarang sekali ditemukan saat proses penetasan. Untuk mengetahui adanya faktor keturunan pada kematian atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan ke laboratorium.
  2. Flok induk terserang penyakit. Kematian embrio pada hari ke 2 dan ke 4 kemungkinan disebabkan serangan penyakit yang terjadi pada peternakan induknya. Penyakit yang paling berpengaruh adalah Egg Drop Syndrome (EDS) dan serangan salmonella pullorum yang ditandai dengan terjadinya berak kapur. Penyakit ini secara langsung menyerang indung telur.
  3. Telur tetas berasal dari induk yang sudah terlalu tua, idealnya telur tetas berasal dari induk yang berumur 25-55 minggu. Telur yang berasal dari induk tua atau induk yang berumur lebih dari 55 minggu memiliki daya tetas yang rendah. Hal ini disebabkan telur memiliki kerabang yang tipis menyebabkan telur mudah menyerap uap air saat kelmbapan tinggi. akibatnya embrio mengalami kematian karena jumlah air melebihi batas toleransi.
  4. Penanganan telur yang terlalu kasar. Saat pembalikan telur sering terjadi guncangan yang tidak diperlukan. Guncangan yang terlalu kers menyebabkan kacaunya posisi embrio. Tidak jarang posisi embrio menjadi sungsang. Kepala yang semestinya mengarah kekantong udara menjadi sebaliknya.
  5. Temperatur inkubator yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Temperatur inkubator tidak boleh berselisih 2 C lebih rendah ataupun lebih tinggi dari standar karena dapat menyebabkan kematian embrio.

Permasalahan telur tetas pecah didalam mesin tetas

Hasil penetasan yang rendah dapat disebabkan banyak faktor, diantaranya penanganan telur yang salah, proses didalam mesin tetas, dan gangguan penyakit yang sangat kompleks. Manifestasi atau gejala yang muncul bisa bermacam-macam.

Didalam mesin tetas sering terjadi kasus telur pecah atau bahkan meletus. Kadang-kadang hanya berupa kerabang retak, lalu cairan didalamnya melelh keluar. Berikut penyebab telur pecah atau meletus didalam mesin tetas :

  1. Telur terkontaminasi bakteri. Telur yang terlalu lama berada diluar mesin tetas bisa kembali terkena mikroorganisme, walaupun sudah didesinfeksi. Metabolisme mikroorganisme didalam telur menyebabkan timbulnya panas dan gas yang dapat membuat telur meledak pada saat proses penetasan, Karena itu, ruang penetassan perlu dijaga kebersihan dan kesterilanya.
  2. Saat telur diambil dari kandang sering terdapat cemaran pada telur, seperti tertempelnya kotoran ayam, tanah atau bekas pakan. Kotoran menjadi tempat bersembunyinya mikroorganisme.
  3. Membersihkan telur dengan tidak benar. Membersihkan telur menggunakan peralatan berbahan logam atau spon merupakan cara yang tidak benar. Logam atau ampelas dapat mengikis lapisan kutikula kerabang yang berfungsi sebagai pelindung bagian dalam. Terkelupasnya lapisan ini membuat pori-pori telur melebar, sehingga pada suhu tinggi telur mengalami dehidrasi, tetapi saat lembap telur dimasuki uap air dari udara. Disamping itu, mikroorganisme juga menjadi lebih gampang masuk kedalam telur.

    Sementara spon merupakan alat yang terlalu lemah untuk dijadikan sebgai pembersih permukaan telur. Dengan demikian, kotoran tidak dapat tersapu dengan sempurna. Benda yang paling sesuai sebagai pembersih permukaan telur adalah sabut kelapa karena teksturnya lembut tetapi memiliki kekuatan sapuan yang bagus.

    Telur sering direndam dalam air untuk memudahkan penglepasan kotoran. Tetapi, perendaman yang terlalu lama dapat membuat air merembes kedalam telur sehingga mikroorganisme masuk kedalam telur. Selain itu, jangan membersihkan telur dengan air hangat karena dapat membunuh embrio. Embrio akan mati dalam waktu 3-4 jam jika terkena suhu 46 C. Jangan lupa untuk membersihkan telur menggunakan desinfektan.
  4. Terjadi infeksi mikroorganisme pada mesin tetas. Telur adalah bahan biologis yang sangat disukai mikroorganisme karena mengandung protein yang tinggi. Karena itu, proses desinfeksi mesin tetas tidak cukup dilakukan hanya dengan mencuci telur menggunakan desinfektan, tetapi harus dilakukan dengan cara fumigasi. Hal ini disebabkan pencucian tidak akan mampu menjangkau celah-celah kecil didalam rak.

    Sumber pencemar mesin diantaranya pecahan telur atau kerabang, bulu-bulu DOC, serta cairan embrio dan bangkai DOC yang telah mati terlebih dahulu akibat infeksi. Mikroorganisme yang tertinggal didalam mesin tetas akan sangat cepat menginfeksi DOC yang baru menetas, karena kondisinya memang masih sangat rentan. Dampak langsungnya adalah terjadinya omphalitis pada pusar DOC yang dapat menimbulkan kematian.